Bontang- guna menunjang permainan atlitnya nanti, tim putra kaltim pilih membebaskan pemainnya untuk memilih sediri peralatan tandingnya.
Bet, inilah senjata menjadi satu-satunya senjata mereka nantinya. Bagian yang paling berpengaruh dari alat penting ini adalah kayunya. Tim asal benua etam ini cenderung memilih stiga.
Kayu asal eropa ini jadi pilihan karena karakteristiknya yang membuat pantulan keras.
“Tergantung anak-anak cocok yang mana, kan mereka yang mau pake”” kata Bambang, Pelatih tenis meja putra kaltim
Akhirnya semuanya jatuh ketangan atlet, demi performa terbaik alat penunjangpun di penuhi. (her/btg)
Tentang keseharian dan hal unik yang bisa kita gali lebih dalam.. kalau saja bersedia membuka hati, mata dan pikiran ;)
Selasa, 03 Februari 2009
Harus jadi juara pool
Bontang- Inilah tekad dari tim tenis meja putra untuk pertandingan beregu putra besok(7/7). Di nomor ini mereka yakin akan jadi yang terbaik. Strategipun sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, agar target satu emas bisa diraih di cabang olahraga yang mengunakan bet sabagai alat permainannya.
“Kita harus menang supaya ga ketemu Jawa Timur” Kata Bambang, pelatih tim putra Kaltim. Target untuk menjadi juara pool di buat bukan tanpa alasan. Sebagai gambaran, jika Kaltim tidak lolos jadi pool maka mereka harus melawan Jawa Timur(Jatim), salah satu tim unggulan saat ini. Sebaliknya, kalau menang di pool, maka lawan yang menanti adalah Jambi.
Kemenangan esok hari dianggap sebagai pembuka jalan bagi regu berikutnya untuk berjuang meperebutkan nomor yang sama. Setiap langkah yang akan di ambil harus dipikirkan secara matang, karena kemampuan atlet yang bertanding rata-rata sama.(her/btg)
“Kita harus menang supaya ga ketemu Jawa Timur” Kata Bambang, pelatih tim putra Kaltim. Target untuk menjadi juara pool di buat bukan tanpa alasan. Sebagai gambaran, jika Kaltim tidak lolos jadi pool maka mereka harus melawan Jawa Timur(Jatim), salah satu tim unggulan saat ini. Sebaliknya, kalau menang di pool, maka lawan yang menanti adalah Jambi.
Kemenangan esok hari dianggap sebagai pembuka jalan bagi regu berikutnya untuk berjuang meperebutkan nomor yang sama. Setiap langkah yang akan di ambil harus dipikirkan secara matang, karena kemampuan atlet yang bertanding rata-rata sama.(her/btg)
DODOL SATU SATUNYA DI KALTIM
Bontang- Makanan khas yang umumnya ada di Jawa Barat ini marak di Kalimantan Timur. Dodol, nyaris dapat kita temui di tempat-tempat keramaian saat ini. Tapi kalau dodol pepaya dan labu? Yang macam ini hanya ada di Bontang.
Di prakarsai oleh Himpunan Home Industry Indominco Mandiri (HITIM) produk ini hadir di bumi etam.
“Kami sampai mendatangkan intrukstur dari Jakarta segala lo,” Kata Nur Asiah anggota HITIM. Pengenalan proses produk ini dimulai sejak pertengahan tahun lalu. Menggandeng mitra binaan desa sekitar perusahaan, seperti Santan Tengah, Suka Rahmat, Suka Damai, Danau Redang, Kandolo dan Teluk Pandan.
Pembuatannya juga tidak rumit, Pepaya atau Labu di campur dengan tepung ketan, gula merah, gula aren dan santan di aduk dengan komposisi tertentu hingga kenyal dan padat.
“Ga susah kok, cuman memang takarannya harus bener pas” tambah perempuan ramah itu.
“Pokoknya terjamin, muali rasa sampai mutunya” ujar wanita paruh baya tersebut.
Konsumenpun tidak perlu khawatir dengan kualias produk tersebut, karena telah mendapatkan lisensi dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama indonesia (MUI) untuk sertifikasi halal.
Produksi pun ditingkatkan jumlahnya untuk kebutuhan Pekan Olahraga Nasiona (PON) XVII. Dalam kondisi normal mereka biasa membuat 5kg saja untuk satukali proses, sekarang menjadi 10kali lipat
Menggunakan merek dagang “ENGGANG”, berangkat ke Bangkok, Thailand pada 2007 untuk memperkenalkan diri lewat pameran. Saat ini bisa kita temui di Pameran niaga “ Khatulistiwa Expo”dan Hotel Bintang Sintuk tempat atlit tinggal di Bontang bahkan di Pekan Raya Jakarta untuk menggencarkan promosinya.
Di prakarsai oleh Himpunan Home Industry Indominco Mandiri (HITIM) produk ini hadir di bumi etam.
“Kami sampai mendatangkan intrukstur dari Jakarta segala lo,” Kata Nur Asiah anggota HITIM. Pengenalan proses produk ini dimulai sejak pertengahan tahun lalu. Menggandeng mitra binaan desa sekitar perusahaan, seperti Santan Tengah, Suka Rahmat, Suka Damai, Danau Redang, Kandolo dan Teluk Pandan.
Pembuatannya juga tidak rumit, Pepaya atau Labu di campur dengan tepung ketan, gula merah, gula aren dan santan di aduk dengan komposisi tertentu hingga kenyal dan padat.
“Ga susah kok, cuman memang takarannya harus bener pas” tambah perempuan ramah itu.
“Pokoknya terjamin, muali rasa sampai mutunya” ujar wanita paruh baya tersebut.
Konsumenpun tidak perlu khawatir dengan kualias produk tersebut, karena telah mendapatkan lisensi dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama indonesia (MUI) untuk sertifikasi halal.
Produksi pun ditingkatkan jumlahnya untuk kebutuhan Pekan Olahraga Nasiona (PON) XVII. Dalam kondisi normal mereka biasa membuat 5kg saja untuk satukali proses, sekarang menjadi 10kali lipat
Menggunakan merek dagang “ENGGANG”, berangkat ke Bangkok, Thailand pada 2007 untuk memperkenalkan diri lewat pameran. Saat ini bisa kita temui di Pameran niaga “ Khatulistiwa Expo”dan Hotel Bintang Sintuk tempat atlit tinggal di Bontang bahkan di Pekan Raya Jakarta untuk menggencarkan promosinya.
Pilih sendiri supaya ga rugi
Bontang-Banyak cara untuk memperkenalkan Kaltim lewat Pekan Olahraga Nasional (PON)XVII. Salah satunya seperti yang dilakukan Akademi Design Grafis (Adega) Bontang. Mereka memilih kaos sebagai media ekspresi.
Kaos jadi pilihan karena nyaman digunakan dan bisa digunakan semua umur.
Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, mulai dari 15ribu sampai 70ribu rupiah. Ragam motif ukiran dayak hingga hal yang berbau PON dapat kita temui di stan Adega, Khatulistiwa Expo Bontang.
Uniknya, konsumen bisa memilih kaos dan design yang disukai kemudian di print tempat yang di inginkan.“Sengaja dibuat begini supaya pembeli juga bisa berkreasi sendiri, biar puas juga sih,” kata Daniel, Tim kreatif Adega.
Ketika ditanya tentang ide awal untuk membuat rancangan, mereka mengakui menggunakan refensi dari internet dan literatur yang dimiliki.
Dengan modal awal 50juta rupiah mereka memulai usaha ini yang rencananya akan di kembangkan menjadi Distibution Store nantinya. Harapan agar PON semakin semarak dengan kehadiran produk hasil karya mereka.
Kaos jadi pilihan karena nyaman digunakan dan bisa digunakan semua umur.
Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, mulai dari 15ribu sampai 70ribu rupiah. Ragam motif ukiran dayak hingga hal yang berbau PON dapat kita temui di stan Adega, Khatulistiwa Expo Bontang.
Uniknya, konsumen bisa memilih kaos dan design yang disukai kemudian di print tempat yang di inginkan.“Sengaja dibuat begini supaya pembeli juga bisa berkreasi sendiri, biar puas juga sih,” kata Daniel, Tim kreatif Adega.
Ketika ditanya tentang ide awal untuk membuat rancangan, mereka mengakui menggunakan refensi dari internet dan literatur yang dimiliki.
Dengan modal awal 50juta rupiah mereka memulai usaha ini yang rencananya akan di kembangkan menjadi Distibution Store nantinya. Harapan agar PON semakin semarak dengan kehadiran produk hasil karya mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)