Selasa, 19 Januari 2010

Fatwa haram dari LIRBOYO

Camp 2000 Pama Bontang- Forum Pondok Pesantren Putri Lirboyo kembali mengeluarkan fatwa haram pada 14 Januari 2010 di Kediri Jawa Timur. Seperti biasa ini ditanggapi dengan berbagai macam opini dari masyarakat. Pro dan kontra muncul sebagai bukti bahwa rakyat sudah maju. Satu hal yang menurut saya membanggakan.

Tapi sebenarnya apa isi dari fatwa itu? Ya.. ada empat konten didalamnya, diantaranya;

1. Perempuan pengojek dan penumpak ojek.
Beberapa bulan yang lalu, aku pernah lihat liputan dari salah satu televisi di Indonesia tentang perempuan yang menjadi pengojek. Bukan karena dia mau, tapi karena dia adalah korban dari lumpur "LAPINDO" Sidoarjo. Yang jadi pikiranku, kira-kira ibu itu masih ngojek juga ga ya? Terlepas dari itu haram, bukankah orang yang memungkinkan perbuatan haram terjadi juga dosa? Kembali ke polemik haram - halal soal ini aku pilih mundur. dan tidak berkomentar sama sekali.

2. Rebonding dan mengecat warna rambut bagi perempuan yang belum menikah (kalo sudah nikah baru boleh).
Huumzz.. saya kok cenderung setuju dengan ini. Rebonding itu kan mematikan sel rambut yang ada, bahasa simple saya yang ga terlalu suka ke salon maka akan bilang itu kegiatan merusak. Maaf - maaf kata ni ya.. buat yang udah pada rebonding ya terserah aja.

Bagaimana dengan mewarnai rambut? Dari jaman kapan tau juga aku ga terlalu setuju sama kegiatan yang satu ini. Oke ini mempercantik, tapi sorry to say... make up dan hair do itu diciptakan untuk menutupi kekurangan, bukan merubah. Ini namanya touch!. Does it takes a genious to realize it? You decide..Ini kan blog saya, catatan saya sendiri, sudah barang tentu ini adalah isi kepala saya.

3. Artis muslim yang berperan nonmuslim.
Nah lo... kalo yang ini aku malah bingung. Inikan namanya kerja, tuntutan profesi. Bukankah ini bentuk profesionalisme. Kenapa mesti masuk ke ranah itu? Jangan - jangan nanti akan keluar fatwa dilarang artis muslim berperan jadi pecandu narkoba. Hayo... pake madat kan juga dosa. Bukankah yang terpenting adalah kemampuan untuk menjaga iman?

4. Foto pra-wedding.
Kalau berlebihan ya jelas ga boleh. Lha wong belom apa-apa kok udah sebegitunya. Hehehhe jujur.. sering lo aku liat undangan pernikahan teman yang berlebihan dalam menunjukan "eksistensi" hubungan mereka.  Sejatinya ga boleh itu kan yang berlebihan. Selama masih aman-aman aja ya oke lah. Sekarang siapa dan apa yang menjadi tolok ukur? Pilih aman aja deh... penilaian masing-masing individu. Walau terdengar subyektif, tapi coba deh.. tanya sama hati kita yang paling dalam. Renungkan baik-baik mana kategori pantas dan tidak. Toh juga pasti kita cukup pintar untuk bisa bertahan.


Sekarang pilihannya terserah aja, kalo aku... ya ini statementku. Toh dari ilmu agam sudah jelas aku kurang, tapi ini namanya prespektif. Sisanya.. terserah saja... ;)

  

Rabu, 06 Januari 2010

Piring tempat hidup berputar

Camp 2000, Pama Bontang. 14.27 wita

Seberapa banyak diantara kita yang sering mengeluh atas kehidupan yang sudah dijalani sekarang? Jumlahnya tentu tidak sedikit bukan? Semoga dengan percikan kehidupan yang aku punya bisa jadi manfaat buat semua.

Kejadiannya belum lama, sekitar tiga hari yang lalu. Waktu itu kami (aku dan teman sekamarku) sama-sama menunggu bis untuk kembali ke mess. Seperti biasa, bis lama datang dan cukup menguras emosi.

Lalu tak lama muncul perempuan muda yang ada didepan ku. Dia memilih duduk di tempat yang sama.  Setahuku dia karyawan dari katering di campku. Obrolan santai saja yang ada di dalam pertemuan kami. Lalu tiba-tiba Sophie, teman sekamarku bertanya.
" Kalian kerja di rolling kan?" Dia mencoba membuka percakapan.
" Iya mba. Memang gitu, biasanya sih sebulan sekali." jawabnya ringan
Tak puas rasanya bertanya lalu aku menambahkan.
" Kalian kan harus melayani banyak orang, di empat lokasi yang berbeda pula (camp 2000 baru, camp 2000 lama, camp OTD dan Camp Palakan) Menurut kamu, mana sih yang paling enak?" tanyaku iseng

Kebetulan mereka bertiga dan menjawab dengan spontan. Gadis yang pertama bilang " Paling enak ya di camp 2000 baru, tempatnya enak sih"
lain lagi yang kedua berkomentar "Ya.. mending yang di camp OTD lebih santai" Lalu yang terakhir bersuara " Sama aja kali mba dimana-mana.lha wong ketemunya piring juga"

Aku cuma bisa diam dan meraba kepenatan yang dia rasakan. Bayangkan saja, kalau semua orang berpikir sama. Apa ini pertanda menjadi orang yang maju? Sementara banyak cara untuk mengembangkan diri. Lalu aku juga mulai berpikir kalau aku juga kadang sama seperti dia.

Dari sini aku kembali belajar lagi kalau ternyata bekerja bukan hanya soal materi tapi juga skill. Apa jadinya gadis tadi tanpa piring yang dia bicarakan tadinya? Seandainya dia punya keahlian yang lain, apa yang tidak mungkin buat dia? Tapi ya sudahlah. Sekarang yang paling penting adalah, apa aku akan terus diam?

Jumat, 18 Desember 2009

Kenapa Herning?

Camp 2000 Pama Bontang Kaltim, 18 Desember 2009, 08.20 wita

Tunai sudah tugas siaran hari ini, biasanya aku akan langsung tidur. Tapi mendadak aku ingin sekali mengisi blog ini, tempat dimana (seharusnya) semua isi kepalaku tertuang. Tidak seperti biasanya, tak apalah Toh bukan kali ini aku melakukan hal yang sifatnya spontan. Ini masih normal (menurutku).
 

Aku ingat kejadian 8 Desember 2009, saat wawancara dengan konsultan yang disewa suara surabaya untuk proses perekrutan karyawan ( aku melamar disana).Tiba saatnya wawancara, masuk ke ruangan itu dan dipersilahkan memperkenalkan diri (biasa lah..).

Lalu kartika (nama yang wawancara) bilang,

“Bisa jelaskan arti nama Herning?” Tanya dia lembut ( sumpah orangnya cewek banget).

Cara bicara dia menunjukan kalau memang dia sering berinteraksi dengan orang, dan kalau menurutku dia terlalu “tua” untuk seumurannya. Aku yakin sekali kami seumuran.

Menjelaskan namaku sendiri. Apa susahnya? Tapi jujur.. waktu umurku 13 tahun aku juga terganggu dengan nama itu. Kenapa harus Herning? Dua tahun kemudian baru tahu jawabnya. Ada gunanya juga sekolah di Jogja.. xixixiixix. SLTP 1 Kasihan Bantul tempat aku belajar (fyi: sebelumnya kelas 1 di 233 jaktim, kelas 2 di 3 waru sidoarjo).

Waktu itu hari pertama masuk sekolah. Pelajaran pertama fisika, Pak guru (aku lupa namanya..maaf ya pak). Dia Tanya ke seisi kelas.

“Saya dengar ada anak baru di kelas ini ya?” dengan logat jawa yang sumpah medhok banget.

Lalu seraya mereka berkata “Iya pak…” dengan nada ngetes mentalku (saat itu mereka ga tahu kalau aku ini langganan pindah sekolah, jelas ga mempan lah…..)

Dengan lirih aku jawab “Herning pak”, sampai dua kali aku menyebutkan namau dan akhirnya dia mendekatiku.

“Herning? Namamu Herning nak?” katanya bijak.

Aku memilih untuk menganggukan kepala saja. Dia diam sejenak dan tersenyum.

“ Herning. Diambil dari dua kata Her dan Ning. Kata Ning diambil dari bening yang artinya jernih. Sementara Her muncul dengan dua arti. Dalam bahasa sansekerta Her artinya menjadi, Sementara dalam sastra jawa kuno justru berarti Air”

Aku kaget luar biasa sambil bangga dan kegeeran . Sesaat dia mengehela napas dan bilang, “Pilihannya ada dikamu sekarang, Apa mau menjadi jernih? Atau memilih menjadi air yang jernih?”
 

Sangat filosofs cara dia berpikir dan aku masih merasa keruh. “Saya pilih menjadi jernih pak!”