Kamis, 17 Mei 2012

Favorite tv show #mustwatch

Samarinda - Boleh dong sekali-sekali bikin artikel soal tontonan kesukaaan. ^-^ Hoby baru ini muncul ketika mendadak dapet akses indovision dari tempat kerja and its feels good lo.. Bukan sombong ya, walau dulu kerja di hutan tapi tontonan pake tv kabel ni. Efeknya luar biasa, bikin lebih pinter. Berlebihan? Mungkin juga, tapi memang begitu adanya. Paling ga memang itu yang aku rasa. 

Lets break it down :)

1. GLEE, TV Show soal perjuangan show choir dari sebuah sekolah MCKINLEY HIGH,


Yes my dearest friends.. I love the show. Though for some point some people called it chessy, well be it.
Yang aku suka dari serial ini adalah kemampuan mereka untuk mengaaransemen lagu. Uniknya lagu yang di buat lintas generasi. Pernah dalam salah satu episodenya mereka remake lagunya grease. How many tv show has the ability to do it?

Sekarang udah mau abis lagi.. :( Saat aku nulis ini.. usah season finale.

2. 2 Broke Girls, Soal dua orang yang sama-sama bangkrut membangun bisnis.

 
Soal yang ini mungkin ga banyak bisa cerita, tapi aku bisa. Hehehe niat banget ih. So far i find it the best ever. oopppsss Maksudnya one of the best tv serial i've seen :) 


3. How I Met Your Mother


Walau serial ini termasuk panjang, sekarang aja udah season 7! Cuman bukan berarti ga asik lagi. Jangan samaan serial luar negeri sama cinta pitri. Beda jauh cuy... Disini segar banget dan menarik. Cerita ini berkisah soal Ted dalam pencarian soulmatenya. Dalam hidupnya banyak temennya yangg kocak0kocak.. Dia sendiri juga kocaka abis sih. So.. ITS OFFICIALLY SUPER FUN 

4. Suits, cerita soal hukum dan pengacara.

Ini dia serial yang aku baru tonton. Sebenernya udah lama liat ini. Cuman memang cukup meresahkan juga ni, karena saat aku bener-bener kecanduan eh season 2nya baru rilis Juni 2012. Butuh waktu lama untuk rilis setelah season 1 berakhir di 2011 lalu. NAH! Bukti kan, kerja ga usah buru-buru. Bikin sinetron juga ga perlu kejar tayang. Kalo bagus juga pasti ditunggu kok. Tapi apa urusannya ya kok malah ngomong sinetron Indonesia?  Kan bukan ajang komparasi.


Nah, itu dia sedikit tentang jenis tontonan yang bisa jadi pilihan buat yang juga demen sama serial luar negeri. Kalo boleh jujur yang paling aku suka dari serial luar adalah cara berpikir mereka kemampuan mereka melakukan analogi di setiap kata yang mereka gunakan. Senen aja sama mind twisting mereka dan sense humor yang hillarious. (nink)



Rabu, 02 Mei 2012

Overseas shall we?


Ini berawal dari obrolan aku dengan pacarku beberapa waktu yang lalu. Kalau ditanya tepatnya, lupa aku. Tapi belum genap seminggu kok ! Pacarku tiba-tiba dapat tawaran kerja di Toronto, Kanada. Dia langsung mendiskusikan ini padaku, mungkin sebagian orang akan bilang… “ Belom jadi istri kok sudah diajak berdiskusi? “. 

Sebagai pembelaan diri,  sebenarnya kami ada berencana menikah akhir tahun ini (doa’in ya…). Jadi rasanya wajar kalau dia mulai mendiskusikan hal-hal macam itu.

Mudah saja aku menjawab, “ Ok, where ever you will go, I will follow

Buat aku, hal baru adalah tantangan. Walau kadang, bertahan juga bisa jadi menawan. Kepalaku langsung merewang panjang, kalau aku akan kuliah S1 dan ambil master disana. Aku bayangkan bahwa kelak nanti, ketika aku kembali ke Indonesia (Ya iyalah.. Masa mau disana terus) aku bisa berbagi ilmu disini. Asik ya? Bukan itu saja aku juga berencana untuk melahirkan disana. Aku ingin membesarkan anak ku di Kanada.

“Hon, are you there?” Suara berat penenang jiwaku memecah anganku barusan.

“ Ya, gimana bang ? ” Aku malah balik  bertanya, pertanda aku tidak mengikuti monolognya selama lima menit terakhir.

Terdengar helaan napas panjang dari ujung telpon itu. “ Iya, aku seneng kamu dukung aku. Aku sengaja ngomong gini karena ini menyangkut kita. “

“Masa depan kita dong…. “ aku mencoba menarik perhatian dia.

“Bukan! Ini masa depan aku yang kita bicarakan, dan kamu didalamnya” Katanya landai.

Sebagian perempuan bisa marah besar jika mendapati jawaban ini dari pacarnya. Tapi aku tidak! Karena aku tahu bahasa ini dia gunakan sebagai sikap seorang pemimpin. Arogan? Masa sih? Kalau dia arogan maka dia tidak akan mendiskusikan ini dengan ku. *lalu beberapa pembaca berkata “ya iyalah.. Pacarnya, pasti dibela” hahahhahaha.

Kami diam sejenak dan aku menceritakan alur lamunanku. Lalu kami membahas Kanada, negara luas dan kaya yang isinya orang ramah dan menyenangkan. Bukan berarti Indonesia ga gitu, hanya saja the great mapple leaf sedang jadi topik pembicaraan kami. Konon banyak imigran yang berhasil disana, bahkan mereka diurus benar oleh pemerintah disana. Negaranya sendiri minim konflik, tingkat kriminalitasnya katanya juga rendah. Bahkan penduduk Kanada punya harapan hidup lebih besar di banding tempat lain.

Mungkin karena tenangnya ya? Disana juga tergolong negara maju.
Bagaimana dengan Indonesia? Ya jangan disamain lah… negara ini kan masih membangun (jiaahh bahasaku kaya politisi).

Apa mungkin ini juga yang dialami oleh mereka yang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan memilih berpindah warga negara? Saya tidak hendak membela atau menghakimi mereka. Karena saya tidak tau masa depan, bisa jadi saya akan mengalaminya suatu saat nanti. Apapun itu kebanggaan menjadi anak pertiwi tetap ada di hati, ga sia-sia saya ikut peleton inti dari SMP J

“ Ya… Kita lihat aja  gimana nanti. Lagian berangkatnya kan ga dalam waktu dekat “ kata pacarku.
“ He? Kok bisa? Niat ga sih? Udah di dukung kok malah melempem! “ protesku

Sambil tertawa dia menjawab “ Sayang, ini (kerja di luar negeri) kan ada prosedurnya. Kata sponsor aku, paling lama dua tahun prosesnya. Itu juga makan waktu, jadi kita santai aja dulu ”. (nink)












Rabu, 25 April 2012

Jenis Marah #ninkversion

Samarinda - Saya bukan pendendam. Hanya saja, memaafkan seseorang bukan hal mudah buat saya. Karena itu semua perlu proses, kadang sebentar tak jarang pula butuh waktu lama. Saya biasa mengkategorikan kemarahan menjadi beberapa jenis :
  1. Marah kepada keluarga dan orang tercinta. jenis kemarahan ini bukan membabi buta, biasanya masih bisa saya tolerir atas nama keluarga. Bahkan adik saya pernah memohon kepada saya untuk memaafkan kesalahan anggota keluarga yang lain. Anda pernah mendapati posisi seperti saya? Pasti rasanya ga karuan ya? Berasa hidup kok ga bebas banget. 
  2. Marah kepada rekan kerja. Saya adalah orang yang mempunya high expectation kepada tim saya. Mengukur mereka atas nama kemampuan jelas bukan alasan buat saya. Bagi saya, dimana ada kemauan disitu ada jalan.Kenapa saya bilang begitu? Potensi itu ga dateng sendiri, tapi digali lewat cara berpikir dan proses kehidupan. Please deh jangan bilang kalu itu semua soal umur. Umur ga ada urusannya soal potensi. 
  3. Marah pada diri sendiri. Kondisi ini biasanya saya alami ketika saya tidak bisa menemukan solusi ketika terbentu kepada kenyataan bahwa kedua jenis kemarahan diatas tidak bisa teratasi dengan baik. Berasa dikutuk kalau sudah begini. MIRIS TRAGIS !
 Bagaimana dengan anda? Bisa  kasih contoh lain??

Selasa, 24 April 2012

Dialog Perempuan “ Kartini Masa Kini, Makin Percaya Diri & Mandiri “ 22 April 2012, Samarinda

Dari kiri -kanan ; Atila, kak Erni , Ita, Risa Amrikasari, Bu Nora, Bunda, and me

Alhamdulilah event Dialog Perempuan “ Kartini Masa Kini, Makin Percaya Diri & Mandiri “ 22 April 2012 akhirnya selesai sudah… ^_^

Rasa bahagia terbayarkan setelah sukses jadi perempuan gagah jelita J hahahha…

Mari kita tilik ke belakang soal pembicara yang aku pilih… RISA AMRIKASARI
Dari namanya aja udah keren kan brader dan sista? Yup, she is stunning in person :) Bisa geer ni orangnya kalo baca… yeaahh what ever 

Semua berawal dari perkenalan di twitter yang bikin aku yang tadinya penasaran jadi gandrung sama perempuan ini. Sekian lama lihat cool twitnya akhirnya semua jadi terasa mudah dan ringan. Kenapa coba? Mudah saja Seorang Risa membuat aku merasa makin kuat dan berani. 

Dulu sempet galau karena dibilang perempuan keras kepala, setelah kenal mba Risa aku jadi tahu bahwa aku bukan perempuan keras kepala… YA! Karena aku adalah perempuan yang tau apa mauku dan paham dengan apa yang aku jalani dan tuju.
Buku Risa Amrikasari
Setelah berasa jadi perempuan yang “seharusnya” maka aku putuskan untuk melakukan banyak hal untuk bisa mengenalkan seorang Risa Amrikasari kepada lebih banyak perempuan. Orang pertama yang jadi korban adalah Kak Erni, teman sekerja yang kemudian menjadi kakak perempuan tempat aku bertanya segala hal. Rupanya dia juga jatuh cinta dengan Rose Heart ( nama pena Risa Amrikasari ), kami berkoalisi (jiaahh bahasanya boo.. ) untuk melakukan segala macam cara untuk mendatangkan idola kami itu.

Dalam waktu sekejap aku buat proposal itu, dengan harapan bisa berhasil dalam waktu cepat. Kami mulai edarkan proposal itu sejak 10 Maret 2012, ditolak orang pada kali pertama justru membuat kami makin semangat. Bukan berarti kami hebat, sekali dua kali ditolak masih semangat memang tapi setelah sampai ke angka belasan, ya lemes juga. Jujur aja sih, ngapain bo’ong? Kantor ga ada ngeluarin dana sama sekali. Kami dimodali kertas, komputer sama printer dan beberapa kontak orang yang bisa dimintai bantuan untuk event ini.  Kaget? Jangan salah selama tujuh tahun di radio memang ini yang aku alami. Tapi toh kami cuek aja tuh, pasti ada jalan deh.

Awalnya semua ngambang dan akhirnya stabil, grafik makin bagus pada H-18 sampe akhirnya para sponsor mundur satu – satu. Sebel? Jelas ini yang dirasa, kepala mulai senut-senut emosi mulai naik. Sampe naek darah tiap ada yang nanya “ gimana perkembangan event mu?” Rasa mau ditimpa aja deh. Udah ga bantu apa-apa, eh berani nanya. Dukungan moril sama sekali ga diperluin saat  itu, duit aja deh yang penting. 

Perusahaan yang di tawarin buat kerjasama malah  proposalnya sama sekali ga ada progress. Alesannya konyol, atasannya belom baca katanya. Gila aja, proposal udah dikasih sebulan kok ga ada kabar? Emosi kan lo sama birokrasi? Rasanya pengen potong kompas, seandainya bisa. Untungnya sponsor utama tetep setia, cuman tetep kurang. Biaya besar masih kami perlukan. Bahkan kami ga berani mikir profit, yang penting jalan. Sampe akhirnya modal nekat itu berbuah manis pada H-10. Bantuan dari donatur mengalir, walau nominal ga seberapa tapi kepercayaan mereka ga boleh di sia-siakan. ACARA HARUS JALAN! SHOW MUST GO ON !

Modal nekat langsung kami urus semua persiapan perjalanan Mba Risa dan akhirnya kepala mulai ringan. Ternyata yang bikin nyesek adalah ketika ada keinginan besar and no action at all. Giliran udah dilakoni, mulai berasa enteng kok.

Sampe H-3 event, kami masih berpikir bahwa kami belum bisa bayar crew/panitia, stress sih iya.. Yang dikepala adalah bagaimana kami bisa bertahan lewati ini semua, sampe akhirnya sebuah produk menghampiri dan datang kepadaku. Mereka regenociate, sampai akhirnya aku setuju dengan kesepakatan separuh harga. Memang belum lega saat bernapas, tapi paling tidak aku masih bisa bernapas walau tersengal. Prinsip kemarin adalah.. HAJAR!!! Ini bukti nya ..

Our Spanduk


Lompat ke hari H aja ya.. biar cepet, karena aku yakin kalian ga perlu tau lamanya perjalanan samarinda – balikpapan berapa tikungan yang aku lewatin dan apa yang aku liat di jalan. Hehehehe

Sampailah aku ketemu Mba Risa & Mas Dwi di Bandara Sepinggan. Keduanya memang orang yang ramah dan nampak benar pandai. Jadi berasa bangga sekedar berdiri di samping mereka ( berlebihan ga sih? ) Menurut aku wajar, dekat orang yang positif  membuat kita ketularan pacaran aura dan energi yang sama. Boleh percaya boleh ga.. Tapi coba aja deh, pasti kerasa juga kan?

Saat Makan Malam
Menuju Samarinda Mba Risa & Mas Dwi istirahat di hotel bersiap untuk dialog di pagi hari, akupun tertidur dengan nyenyak di kost  tercinta hehehehe. Bisa aja sih di hotel, cuma aku ini punya masalah tidur di tempat baru. Ya, berasa ga bisa tenang aja serba salah. Padahal di hotel, enak nyaman dan ini kelasnya deluxe lo.. Dasar kebiasaan hidup di kost, hehhehe. Balik lagi ke event ya….

Ada aja cobaan jelang event terlebih dalam hitungan jam. Mulai dari tempat makan yang udah di blok tiba-tiba ga bisa di akses, gerimis tanpa henti, persiapan juga minim ini dan itu. Jangan bilang aku nyerah dan  nangis ya… Dengan sepatu berhak tinggi dengan sigap aku minta bantuan tim untuk organize mana-mana yang kurang. Aku perlu bantuan tim, Kak Erni ? Ya, dia sudah dengan job desknya sendiri. Kami sudah membagi banyak hal. Dia lebih tenang dan sabar, sementara aku lebih agresif dan reaktif.  Kami kombinasi yang sempurna.

Dalis Pattalongi, Ketua DPW PAN KALTIM
Sampai akhirnya sambutan aku merasa banyak dapat perhatian disana. Gimana ga? Ketua DPW PAN KALTIM, Darlis Pattalongi berkali-kali menyebut namaku. Bangga bangett lo boo…. Senang rasanya ketika bisa dilewati semua cercaan, bantaha dan sikap negatif yang bertubi-tubi datang pada kami dan akhirnya berbuah manis. Rasanya ingin tertawa terbahak-bahak sambil ngomong nyinyi ke mereka dan bilang.. " Liat ni hasil kerja gue sama kak Erni dan temen2 ". Mulai deh sombong :(

Bukan Herning namana kalo terbuai dan lupa sama rundown dan time table. Kepala tetep muter supaya event tepat waktu. Sampai akhirnya sesi mba Risa datang juga, dan aku baru santai…. She knows what she doing.. Yeaahh, para peserta bersemangat memperhatikan gerak-geriknya. 

Risa Amrikasa
Menarik bagaimana dia menjelaskan dan menggambarkan pandangannya soal kartini dan perempuan. Mereka di ajari untuk berani dan mandiri, terlebih lagi yang paling penting adalah percaya diri. Bersama kami bunuh sikap negatif dan hal-hal yang merintangi lewat negosiasi dan mendapatkan apa yang diinginkan. 

Terlihat jelas bagaimana mereka melihat hal baru setelah pulang dari dialog perempuan itu. Waktu yang harusnya satu jam malah molor jadi dua ja.. hehehehhe keasikan ngobrol sama mba Risa sih.. Dan aku jadi perempuan paling dibenci (xixiixixixi) karena aku yang mematikan waktu.
 
Hebat, setelah selesai event kami langsung menuju Balikpapan untuk mengantar Mba Risa ke bandara. Sampai waktunya kami berpisah, hanya satu yang terlintas “ Apalagi abis ini ya?” Samarinda harus mengenal lebih banyak orang untuk menginspirasi lagi. Sebelum itu semua aku putuskan untuk istirahat sebelum menerjang masa lagi .

Terimakasih RISA AMRIKASARI, Peserta dan pendukung acara ini.