Jumat, 27 Juli 2012

Lelah ditengah

Samarinda - Pernah merasa seperti ini? Jelas super duper ga enak ya! Kali ini terjadi (lagi). Berhadapan dengan begitu banyak orang dan akhirnya hanya diam tanpa bahasa membuatku merasa... SUDAHLAH. Keinginan untuk keluar selalu ada, tapi sampai kapan harus bertahan saya rasa pilihan ada ditangan saya sendiri.

Dalam keluarga akan ada masanya saya harus mnghubungkan perasaan antara dua orang atau lebih. di pekerjaan? Oh jelas ini memang terjadi benar, malas memang rasanya jika ini terjadi dalam satu saat yang sama. Kenapa orang sulit sekali mengatakan maksudnya sampai harus mengorbankan orang lain untuk menyelesaikannya?

Setelah dibaca baik-baik, ternyata postingan kali ini cuma berisi keluhan tak berujung. Jadi lebih baik diam, dipikirkan dengan tenang dan TIDUR!

Minggu, 22 Juli 2012

(Pengen) Geser Pager

Samarinda - Hari ini ada info dari temen kalau ada Mall yang cri project event. Heemm tawaran menarik, mengingat kalau di Samarinda saya belum pernah nemu mall yang bertema ( kecuali kalau tahun baru dan lebaran. Menarik bukan ketika kita bsa berkarya lebih banyak? Asik kan ya? Tapi apa mungkin ini bisa? Sementara saya masih jatuh cinta dengan radio. Kalau memang jatih cinta bertemu dengan realita harus bertempur keras, maka biarlah

Selasa, 10 Juli 2012

Donor Darah adalah PRIVILEGE

Bingkisan dari PMI Samarinda
Samarinda - Buat sebagian orang mungkin donor darah adalah hal yang biasa dan umum saja. Kegiatan ini biasa dikenal sebagai sedekah, berbuat baik dan mencari pahala. Sama sekali ga ada salahnya dengan donor darah ( selama anda sehat ).

Tapi buat saya donor darah adalah kegiatan istimewa, bukan karena ingin sombong dan merasa paling benar karena sudah berbuat baik, sama sekali bukan. Buat saya menjadi pedonor adalah kehormatan. Ya! Karena saya "diperbolehkan" untuk membantu orang lain dengan apa yang saya miliki.Harus diakui saya kecanduan donor darah dalam dua tahun terakhir ini.

Seperti layaknya hidup, ada kalanya kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.  Sampai akhirnya masalah muncul pada akhir tahun lalu.Saya dinyatakan tidak layak melakukan donor darah karena kadar hemoglobin darah selalu kurang dari 12 (batas normal). Katanya kelelahan, srtess dan ini itu bukannya makin tenang, saya malah makin stress diberitahu kabar itu hehehehhe (sungguh pribadi yang tidak siap dikritik).

Sampai akhirnya 7 Juli kemarin, niatnya iseng main ke Mall Lembuswana. Untungnya ada mobil PMI yang mangkal disana. Jujur saya trauma dan takut ditolak lagi ( saya ini ditolak donor 5 kali berturut-turut), akhirnya lewati mobil dan stand PMI dengan cueknya dan langsung ke toilet. Disana langsung cuci muka, ngilangin stress dan ngumpulin nyali. Ngaca lama-lama dan sambil bilang " Kali ini pasti bisa! Pasrah aja.. " Sungguh urusan donor darah ini diluar kuasa saya. Mau bilang daram? Silahkan.. wong kenyataannya memang begitu.

Akhirnya saya tersadar bahwa ruangan itu makin penuh dan berisik gara-gara sekelompok perempuan muda bekerja masuk. Kaki ini makin mantap ke stand PMI, disana saya ketemu mba yang baik, ramah, cantik ( belebihan ah) sabar aja deh. Tekanan darah di cek, hasilnya normal (alhamdulilah). Dag dih dug  terasa saat mau ambil darah,  ngecek  Hb! Ini dia yang jadi momok, ngeri banget.  Jarum itu masuk ke kulit dan diambil sample darah, lalu dimasukin ke alat mungil. Berbeda dengan di Bontang. Kalau disana sample darah dimasuka ke cairan kalau jatuh berarti hb bagus, kalau ngambang berarti jelek dan ga bisa diambil darahnya.

Karena ga  berani melihat hasil saya pilih tutup mata dan menunggu petugas yang ngomong sendiri, " 13,5 mba "

Sekejap langsung saya buka mata dan langsung teriak " AAAAAKHHHIIRNYA !" tanpa sadar teriakan itu membahana dan seisi lorong melihat saya. Petugasnya cuman senyum-senyum saja. ( NINK )

Rabu, 04 Juli 2012

LIFE'S GOES ON

Samarinda - Kemarin bisa jadi hari yang membahagiakan bagi kami sekeluarga, karena adik saya diterima bekerja di Pertamina. Perjuangan dia selama berbulan-bulan akhirnya berbuah manis. Senang? Oh jelas, bahagia nyata benar terlihat dan terasa. Ibu jelas jadi orang yang paling berbahagia atas suka cita ini.

Saya adalah anak kedua dari lima bersaudara, sekaligus satu-satunya anak perempuan di keluarga saya. Besar di keluarga ini membuat saya menjadi orang yang keras dan sensitif disaat yang sama. Bukan juga hal yang bisa dibanggakan terlalu luar biasa. 

Kalau dilihat kebelakang, mungkin orang tidak akan pernah menyangka bagaimana kami bisa seperti  sekarang. Sebelas tahun yang lalu kami ( Ibu, saya dan tiga adik saya ) datang ke Kalimantan Timur untuk memulai hidup yang baru. Kakak saya masuk pendidikan dinas di Curug, itulah kenapa dia tidak bersama kami. Seingat saya yang kami bawa hanya pakaian dan buku saja, dengan kapal Tidar yang membawa kami ke Balikpapan.

Setahu saya, pindah ke Kalimantan artinya akan kuliah di Samarinda (kebetulan saya diterima di Fak. Kehutanan Unmul ), tapi tidak. Kami dalam kondisi yang sangat sulit, jangankan untuk kuliah. Untuk makan dan tempat tinggalpun kami tidak punya. Akhirnya Ibu memutuskan untuk memisahkan saya dan adik-adik. Ibu, saya dan adik bungsu saya untuk tinggal di Bontang bersama keluarga Pakde untuk sementara waktu. 

Ibu memulai usaha warung makan yang pelan-pelan membuahkan hasil, lumayan lah untuk saat itu. Kami dulu pernah makan singkong rebus karena ibu tidak punya uang untuk beli beras, akhirnya bisa makan makanan yang "mewah" untuk ukuran kami. Tidak butuh waktu lama, Ibu memutuskan untuk mengumpulakan kami kembali. Akhirnya, kami sekeluarga bisa kembali berkumpul di Bontang. Kami mulai menata hidup.

Kesulitan hidup membuat kami menjadi kompak, dipandang orang dengan buruk, dinilai salah, bahkan dibilang anak tanpa Bapak. Bukan cuma orang luar yang bilang begitu, dari keluarga besar juga bahkan ada yang terang-terangan membenci kami. Dari sana kami belajar, kalau uang memang membutakan. Kami bahkan dianggap sampah dan benalu oleh mereka. Sampai kami bersumpah suatu hari jka kami menjadi "orang" kami akan balas mereka satu persatu Dulu kami dendam sekali, waktu dan kondisi merubah kami. 

Hidup mulai tertata, Ibu membiarkan saya kuliah Diploma 1 di Balikpapan, karena cuma itu yang Ibu mampu. Tiga adik saya masih sekolah, jadi tidak mungkin saya meminta terlalu banyak. Selapas kuliah saya sempat bekerja di beberapa tempat dan akhirnya memutuskan menjadi penyiar radio sampai sekarang. Adik saya yang paling besar sekarang sudah bekerja di Pupuk Kaltim, yang nomor dua kan tadi sudah dibiang diatas, sementara yang paling kecil sedang menunggu pengumuman SNMPTN ( semoga dia bisa masuk kampus idamannya). 

Kami memang belum bisa dianggap bangkit benar, tapi kami sudah bisa membuka mata mereka yang dulu menghina, memaki dan merendahkan kami dengan bukti nyata bahkan kami mulai berhasil. Saya bangga dengan Ibu karena keteguhannya menghadapi perjalanan panjang ini. Saya yakin ini menjadi ladang pahal luar biasa buat ibu. Sementara kami anak-anaknya bisa terus berkarya dan membuat bangga Ibu denga semua prestasi kami. Semoga banyak hal baik lagi yang bisa kami dapati. 

Perjalanan  sudah sejauh ini, rasanya sudah waktunya saya untuk melakukan hal yang sama. selama 10 tahun terakhir saya menutup hati karena saya mau melihat adik-adik saya berhasil.Sekaang mereka sudah menemukan jalannya sendiri dan saya juga harus move on. Semoga akhir tahun nanti saya bisa melangsungkan pernikahan saya dengan orang yang sudah saya pilih. Tapi saya juga harus tetap menjaga seorang adik saya yang masih harus menyelesaikan pendidikannya.