Bontang - Orang sering bilang "pulang", tapi sebenarnya pulang itu kemana? Hakikinya memang kepada sang pemilik kehidupan, sayang kita belum bicara sejauh itu.
Waktu aku pulang ke kota ini, semua masih sama, perubahan tak terlalu terasa. Aku kembali setelah hampir dua tahun pergi. Pertama aku berpikir bahwa ini adalah pulang. Tapi aku salah, ini adalah berkunjung. Rumahku? ya bersama suamiku.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Tentang keseharian dan hal unik yang bisa kita gali lebih dalam.. kalau saja bersedia membuka hati, mata dan pikiran ;)
Jumat, 30 Januari 2015
Minggu, 21 Desember 2014
Berdiri di satu kaki tanpa berganti hati.
Jakarta - Aku menghitung dengan cermat mana-manaP bagian yang bisa aku rekam dengan baik. Mana pula tempat yang bisa aku gunakan sebagai tempat berpijak kini dan nanti
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Jumat, 07 November 2014
Perjuangan ASI Ekslusifku
Jogja - Keinginan untuk memberi ASI eksklusif 6 bulan kepada Keenan Insya Allah terwujud dua hari lagi. Kenapa? Ya karena dua hari lagi Kee masuk 6 bulan :)
Mereka bilang, " Enak ya ASInya banyak" atau " Namanya anak orang ya harus ASI, bukan sufor atau sapi". Idiiihhh menyakitkan tau.... Jangan gitu ah, bersyukur yang bisa kasih asi full, yang tidak bisa kan bukan berarti salah sama sekali.
Kembali ke kisah ASIku, belajar memerah asi dengan tangan aku lakukan sejak Keenan berusian 3 bulan. Waktu itu alasannya simple, aku mau potong rambut. Hehehe ga mau ah bawa Kee ke salon. Awalnya susah banget, sampe frustasi apa pake pompa asi aja. Tapi beli juga sayang, harganya kan 300rban, mending buat yang lain. Ternyata masalah terbesarnya bukan itu. Produksi ASI itu fluktuatif, kadang banyak dan ga jarang sedikit. Selidik punya selidik itu karena kesalahan aku sendiri. Makan ga teratur dan stress.
Sejak sebulan yang lalu akhirnya pakai unimom, hasil minjem dari sepupu. Awalnya frustasi pake breast pump. Dikepalaku, kl pake BP bakal ngalir kaya keran air, ternyata ga. Ya sama aja kaya merah asi manual. Emosi, jadinya makin sedikit deh dapetnya. Masak 1 jam cuma 50 Ml. Kebangetan ga tuh???
Karena masih jengkeln sempet tuh empat hari ga merah asi dan akhirnya kembali semangat nyetok asi. Alhamdulilah 75ml dalam 30 menit. Lumayaaannn.
Perjuangan ASI ekslusif hampir selesai, tapi setelahnya aku bertekad sampai Keenan DUA tahun harus tetap ASI. Semangat para Busui... Insya Allah kita bisa :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Mereka bilang, " Enak ya ASInya banyak" atau " Namanya anak orang ya harus ASI, bukan sufor atau sapi". Idiiihhh menyakitkan tau.... Jangan gitu ah, bersyukur yang bisa kasih asi full, yang tidak bisa kan bukan berarti salah sama sekali.
Kembali ke kisah ASIku, belajar memerah asi dengan tangan aku lakukan sejak Keenan berusian 3 bulan. Waktu itu alasannya simple, aku mau potong rambut. Hehehe ga mau ah bawa Kee ke salon. Awalnya susah banget, sampe frustasi apa pake pompa asi aja. Tapi beli juga sayang, harganya kan 300rban, mending buat yang lain. Ternyata masalah terbesarnya bukan itu. Produksi ASI itu fluktuatif, kadang banyak dan ga jarang sedikit. Selidik punya selidik itu karena kesalahan aku sendiri. Makan ga teratur dan stress.
Sejak sebulan yang lalu akhirnya pakai unimom, hasil minjem dari sepupu. Awalnya frustasi pake breast pump. Dikepalaku, kl pake BP bakal ngalir kaya keran air, ternyata ga. Ya sama aja kaya merah asi manual. Emosi, jadinya makin sedikit deh dapetnya. Masak 1 jam cuma 50 Ml. Kebangetan ga tuh???
Karena masih jengkeln sempet tuh empat hari ga merah asi dan akhirnya kembali semangat nyetok asi. Alhamdulilah 75ml dalam 30 menit. Lumayaaannn.
Perjuangan ASI ekslusif hampir selesai, tapi setelahnya aku bertekad sampai Keenan DUA tahun harus tetap ASI. Semangat para Busui... Insya Allah kita bisa :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Senin, 13 Oktober 2014
Buat rekening (lagi)
Jogja - Sejak menikah dan punya anak banyak hal yang terlupa, salah satunya mengisi rekening bank. Alhasil saat beberapa waktu yang lalu ingin menggunakan ATM BCA eh, kartunya ketelen hiks. Pertama bingung kenapa kok bisa begitu. setelah telpon ke call center, baru tau kalau rekening aku udah closed. hiks
Akhirnya minta pendapat suami, kata abang ga bisa bikin rekening kalau tanpa surat domisili sampai kecamatan, Nah lo... kenapa begitu? Jawabnya mudah, karena aku masih warga Bontang, Kaltim. Artinya gampang... ga punya KTP setempat.
Bukan aku kalau percaya aja sama suami dan manut, akhirnya telpon ke BCA dan meminta penjelasan. Ternyata bisa kok! Mba yang di ujung telpon waktu itu bilang tinggal bawa KTP, SIM dan fotocopy Kartu Keluarga. Waduh, sempet sakit kepala juga. Wong KKnya ada di Bontang juga. Ga habis akal langsung minta adek emailin softcopynya. Sementara abang masih keukeh kalau perlu surat domisili dari kecamatan. Mungkin pada heran kenapa suami kok keukeuh banget, wajar aja sih, dia dulu bikin BCA di Jakarta diminta surat domisili itu. Alasannya karena masih KTP Banten.
Karena keukeh, akhirnya ke BCA.... Ternyata sampai sana Mba Shella, petugas dari BCA Brigjen Katamso Jogja bilang, bisa lihat KTP dan SIMnya mba? Aku kasih deh... Dia bilang bisa aja kok, asal bisa menunjukan identitas lain dengan nama dan alamat yang sama! Bahkan Fotocopy Kartu Keluargaku ga kepake :)
Yeaayyy Punya rekening Tabungan (lagi)
Akhirnya minta pendapat suami, kata abang ga bisa bikin rekening kalau tanpa surat domisili sampai kecamatan, Nah lo... kenapa begitu? Jawabnya mudah, karena aku masih warga Bontang, Kaltim. Artinya gampang... ga punya KTP setempat.
Bukan aku kalau percaya aja sama suami dan manut, akhirnya telpon ke BCA dan meminta penjelasan. Ternyata bisa kok! Mba yang di ujung telpon waktu itu bilang tinggal bawa KTP, SIM dan fotocopy Kartu Keluarga. Waduh, sempet sakit kepala juga. Wong KKnya ada di Bontang juga. Ga habis akal langsung minta adek emailin softcopynya. Sementara abang masih keukeh kalau perlu surat domisili dari kecamatan. Mungkin pada heran kenapa suami kok keukeuh banget, wajar aja sih, dia dulu bikin BCA di Jakarta diminta surat domisili itu. Alasannya karena masih KTP Banten.
Karena keukeh, akhirnya ke BCA.... Ternyata sampai sana Mba Shella, petugas dari BCA Brigjen Katamso Jogja bilang, bisa lihat KTP dan SIMnya mba? Aku kasih deh... Dia bilang bisa aja kok, asal bisa menunjukan identitas lain dengan nama dan alamat yang sama! Bahkan Fotocopy Kartu Keluargaku ga kepake :)
Yeaayyy Punya rekening Tabungan (lagi)
Langganan:
Postingan (Atom)