Camp 2000, Pama Bontang - Yel - yel ini yang biasa aku temui dalam keseharian sejak masuk ke site ini. Pertama mendengarnya aku justru merasa seperti anggota MLM deh. Lebay, terkesan memaksa dan juga berasa berlebihan,tapi lama-lama malah biasa aja. Lalu dimana letak salahnya?
Seiring berjalan waktu aku justru melihat sebaliknya. Nyata benar, tampak semangat dalam binar mata mereka setelah mengucapkan dua kata itu " Semangat Pagi! ". Aku rasa efektifitasnya tidak perlu diragukan. Menariknya, ini menjadi ajaib ketika atasan yang bicara kepada bawahannya. Seakan dinding hirarki runtuh dan berganti dengan keakraban dan suasana yang hangat.
Walau begitu, layaknya orang timur berperilaku, budaya enggan dan segan juga masih ada. hanya saja "paketannya" jauh lebih cair. Agaknya ini adalah awal dari sebuah era keterbukaan. Pada akhirnya, aku merasa ini adalah hal yang baik (sekarang).
Tentang keseharian dan hal unik yang bisa kita gali lebih dalam.. kalau saja bersedia membuka hati, mata dan pikiran ;)
Selasa, 23 Maret 2010
Take him out (of my way)
Camp 2000, Pama Bontang - Malam ini aku lakukan deklarasi atas bebasnya diri dari belenggu cinta berkepanjangan. HEBAT!!! Semoga bisa... Amin. Harus diakui, blog ini jarang bercerita tentang kisah cinta pemiliknya, aku pikir sekarang saatnya. And its fresh from the oven hot and spicy as well
I knew these guy for about two years, but itrs kinnda on and off thing between us. Sempat kerja bareng kurang lebih dua minggu di tahun 2008 untuk sebuah project. Berakhir dengan bertukar nomor telepon dan alamat surel. Nyaris ga ada yang istimewa deh antara aku dan dia. Setidaknya buatku, biasa saja ( mungkin karena waktu itu masih ada Mr. DPA ya?).
Setelah selesai proyek itu, seingatku kami masih kontak. Hanya intensitasnya yang sangat minim. Mungkin kalau orang bilang, sekedar saja. Entah bagaimana ceritanya, September 2009 dia datang lagi, muncul tanpa ada pertanda apapun. Dia menyapa di instant messengingku, tapi ada yang menarik kali itu. Laki-laki dari masa lalu itu bilang " Sekarang aku sudah kerja, kalau kamu ke kotaku, aku sudah bisa traktir kamu". Buatku ini konsep yang menarik. Karena butuh waktu lama dia untuk menghampiri, ternyata menunggu mendapat pekerjaan yang tetap.
Sejauh ini tidak ada masalah bukan? Hahahahaha Tapi kata siapa masalah berhenti? Entah apa yang dilakukan pria itu kepadaku. Yang aku tau, ya aku cukup bingung melihat gelagatnya. Sebentar ada kabar, selebih waktu menghilang tak nampak. Apa ini masih jadi konsep yang aku suka? Agaknya tidak.
Waktu terus berjalan, sampai satu saat aku memutuskan datang ke kota tempat dia tinggal. Kebetulan aku juga punya sahabat yang tinggal disana. Hari pertama aku injakan kakiku disana, tidak juga ada kabar dari dia untuk menanyakan keberadaanku. Hingga malam hari aku putuskan ke bioskop bersama sahabat tercinta, Ika. Aku kirimi Mr. X pesan singkat yang menyatakan tempat aku berpijak. Dia menolak dibelikan tiket dan bilang " Aku akan kesana, kamu ga usah khawatir. Setelah kamu keluar dari bioskop, aku pasti ada diluar". Buat aku ini masih aman saja, wajar kalau dia tidak berminat bergabung. Anehnya tiga puluh menit sebelum filmnya selesai aku coba hubungi dia untuk konfirmasi tapi.. nomornya TIDAK AKTIF!. Aku tau ada yang tidak beres dari sini.Aku pilih pulang, cari makan dan tidur. Rencanaku memang hanya satu malam saja di kota itu. Pagi harinya aku putuskan pulang. Masih... tanpa permintaan maaf dari dia. Aku pikir sudahlah ini bukan yang aku mau.
Bukan aku rasanya kalau tidak naif. Awal Maret 2010 dia hubungi aku lagi, Entah apa aku selalu menerima persahabatan yang dia tawarkan. Aku pikir semua berubah, saling kirim kabar via pesan singkat terjalin dengan sangat intensif. Beberapa kali aku coba telepon dia, he seems to be happy (but i wonder, how come he never call me.. what so ever). Kami bicara banyak seakan tidak pernah ada masalah sebelumnya. Bahkan berbagi mimpi dan masa depan. Semuanya seakan berjalan baik saja, nyaris sempurna.
Sampai akhirnya dua hari yang lalu, terbesit di kepala ini kalau kondisi on and off akan berulang. Aku kirim pesan singkat ke dia dan bilang "Sekarang kok tiba-tiba aku berpikir. Kalau nanti kita sudah kerja masing-masing lagi, kok aku yakin kalau kita ngga akan sempat buat sms-an lagi". Ya... ini turning point buat aku bahwa yang terjadi dulu tidak boleh berulang lagi.
Alhasil, terbukti hari ini. Tidak ada kabar sama sekali. Biarlah, ini memang sudah garis yang ada. Tapi aku ambil langkah ektra cepat kali ini. Menghapus semua nomor telepon dan situs jejaring sosial dia, dengan harapan keinginan aku untuk menghubungi dia akan kandas.
Mungkin dia punya masalah yang harus diselesaikan, dan aku harus menunggu untuk kebenaran. Apapun itu, aku tidak seharusnya berada dalam labirin yang dia ciptakan. Kembalilah dengan konsep yang lebih matang, dan kelak kita pikirkan jalan terbaik kelak. Tapi untuk sekarang.... Make up your mind
All i know, a man have stood up in his words. Definately, he doesn't count.... ( to a guy with AY Initial)
I knew these guy for about two years, but itrs kinnda on and off thing between us. Sempat kerja bareng kurang lebih dua minggu di tahun 2008 untuk sebuah project. Berakhir dengan bertukar nomor telepon dan alamat surel. Nyaris ga ada yang istimewa deh antara aku dan dia. Setidaknya buatku, biasa saja ( mungkin karena waktu itu masih ada Mr. DPA ya?).
Setelah selesai proyek itu, seingatku kami masih kontak. Hanya intensitasnya yang sangat minim. Mungkin kalau orang bilang, sekedar saja. Entah bagaimana ceritanya, September 2009 dia datang lagi, muncul tanpa ada pertanda apapun. Dia menyapa di instant messengingku, tapi ada yang menarik kali itu. Laki-laki dari masa lalu itu bilang " Sekarang aku sudah kerja, kalau kamu ke kotaku, aku sudah bisa traktir kamu". Buatku ini konsep yang menarik. Karena butuh waktu lama dia untuk menghampiri, ternyata menunggu mendapat pekerjaan yang tetap.
Sejauh ini tidak ada masalah bukan? Hahahahaha Tapi kata siapa masalah berhenti? Entah apa yang dilakukan pria itu kepadaku. Yang aku tau, ya aku cukup bingung melihat gelagatnya. Sebentar ada kabar, selebih waktu menghilang tak nampak. Apa ini masih jadi konsep yang aku suka? Agaknya tidak.
Waktu terus berjalan, sampai satu saat aku memutuskan datang ke kota tempat dia tinggal. Kebetulan aku juga punya sahabat yang tinggal disana. Hari pertama aku injakan kakiku disana, tidak juga ada kabar dari dia untuk menanyakan keberadaanku. Hingga malam hari aku putuskan ke bioskop bersama sahabat tercinta, Ika. Aku kirimi Mr. X pesan singkat yang menyatakan tempat aku berpijak. Dia menolak dibelikan tiket dan bilang " Aku akan kesana, kamu ga usah khawatir. Setelah kamu keluar dari bioskop, aku pasti ada diluar". Buat aku ini masih aman saja, wajar kalau dia tidak berminat bergabung. Anehnya tiga puluh menit sebelum filmnya selesai aku coba hubungi dia untuk konfirmasi tapi.. nomornya TIDAK AKTIF!. Aku tau ada yang tidak beres dari sini.Aku pilih pulang, cari makan dan tidur. Rencanaku memang hanya satu malam saja di kota itu. Pagi harinya aku putuskan pulang. Masih... tanpa permintaan maaf dari dia. Aku pikir sudahlah ini bukan yang aku mau.
Bukan aku rasanya kalau tidak naif. Awal Maret 2010 dia hubungi aku lagi, Entah apa aku selalu menerima persahabatan yang dia tawarkan. Aku pikir semua berubah, saling kirim kabar via pesan singkat terjalin dengan sangat intensif. Beberapa kali aku coba telepon dia, he seems to be happy (but i wonder, how come he never call me.. what so ever). Kami bicara banyak seakan tidak pernah ada masalah sebelumnya. Bahkan berbagi mimpi dan masa depan. Semuanya seakan berjalan baik saja, nyaris sempurna.
Sampai akhirnya dua hari yang lalu, terbesit di kepala ini kalau kondisi on and off akan berulang. Aku kirim pesan singkat ke dia dan bilang "Sekarang kok tiba-tiba aku berpikir. Kalau nanti kita sudah kerja masing-masing lagi, kok aku yakin kalau kita ngga akan sempat buat sms-an lagi". Ya... ini turning point buat aku bahwa yang terjadi dulu tidak boleh berulang lagi.
Alhasil, terbukti hari ini. Tidak ada kabar sama sekali. Biarlah, ini memang sudah garis yang ada. Tapi aku ambil langkah ektra cepat kali ini. Menghapus semua nomor telepon dan situs jejaring sosial dia, dengan harapan keinginan aku untuk menghubungi dia akan kandas.
Mungkin dia punya masalah yang harus diselesaikan, dan aku harus menunggu untuk kebenaran. Apapun itu, aku tidak seharusnya berada dalam labirin yang dia ciptakan. Kembalilah dengan konsep yang lebih matang, dan kelak kita pikirkan jalan terbaik kelak. Tapi untuk sekarang.... Make up your mind
All i know, a man have stood up in his words. Definately, he doesn't count.... ( to a guy with AY Initial)
Senin, 22 Maret 2010
Lupakan wawancara (ketika kesabaran dipertaruhkan) Part I
Camp 2000, Pama Indo Bontang - Kejadian ini sudah lama terjadi sih. Tapi buat aku ini menggelitik. Kesombonganku benar-benar diuji. Hasilnya sudah jelas, aku memang sombong hahhahaha.
Aku rasa waktu itu Minggu kedua di November 2009. Pagi itu, dilayar hpku muncul nomor berkodekan Jakarta. Senang rasanya hatiku, karena aku memang punya banyak koneksi media disana. Pikirku melayang, aku seakan yakin kalau nomor itu adalah nomor perusahaan baru yang akan mengnaungiku. Opppssss.. Ternyata meleset, ternyata perusahaan kontraktor batubara yang beroperasi di Kutai Timur.
Suara itu terasa renyah dan ramah buatku, rasanya jarang ada staff HRD yang renyah. Inisialnya "D" ( ga usah namalah, toh blog ini aku yang punya), jelas dia perempuan. Dia menanyakan apakah aku bersedia untuk bergabung di radio milik perusahaannya. Seperti biasa, kontrak adalah perjanjian hidup. Ya aku bilang " Memang apa yang company mba tawarkan ke saya?" Lalu dengan lancar dia bicara kompensasi gaji yang akan diterima, perhitungan libur dan lain sebagainya.
Kalau dipikir, gajinya malah lebih kecil dari yang aku dapat dari radioku yang sekarang. Tapi aku tertarik dengan kebebasan yang (mungkin) mereka bisa kasih ke aku waktu itu. Saat itu aku tau, saatnya berpindah dan jadi kutu loncat. Saat hati itu sudah mantap, aku putuskan waktu wawancara. 30 Nopember adalah waktu yang tepat. Karena aku jadwalkan esok ke Surabaya, dan kami sepakat.
Akhirnya aku menghubungi seorang sahabat, dan ya... aku berangkat.
Aku rasa waktu itu Minggu kedua di November 2009. Pagi itu, dilayar hpku muncul nomor berkodekan Jakarta. Senang rasanya hatiku, karena aku memang punya banyak koneksi media disana. Pikirku melayang, aku seakan yakin kalau nomor itu adalah nomor perusahaan baru yang akan mengnaungiku. Opppssss.. Ternyata meleset, ternyata perusahaan kontraktor batubara yang beroperasi di Kutai Timur.
Suara itu terasa renyah dan ramah buatku, rasanya jarang ada staff HRD yang renyah. Inisialnya "D" ( ga usah namalah, toh blog ini aku yang punya), jelas dia perempuan. Dia menanyakan apakah aku bersedia untuk bergabung di radio milik perusahaannya. Seperti biasa, kontrak adalah perjanjian hidup. Ya aku bilang " Memang apa yang company mba tawarkan ke saya?" Lalu dengan lancar dia bicara kompensasi gaji yang akan diterima, perhitungan libur dan lain sebagainya.
Kalau dipikir, gajinya malah lebih kecil dari yang aku dapat dari radioku yang sekarang. Tapi aku tertarik dengan kebebasan yang (mungkin) mereka bisa kasih ke aku waktu itu. Saat itu aku tau, saatnya berpindah dan jadi kutu loncat. Saat hati itu sudah mantap, aku putuskan waktu wawancara. 30 Nopember adalah waktu yang tepat. Karena aku jadwalkan esok ke Surabaya, dan kami sepakat.
Akhirnya aku menghubungi seorang sahabat, dan ya... aku berangkat.
Selasa, 16 Maret 2010
Meretas kehilangan ( In memoriam Bapak. Sundari )
Minggu, 14 Maret 2010 pukul 09.00 WIB dia berpulang. Di jemput ajal yang menandakan waktu berpulang ke sang pemegang nyawa. Aku tau dia akan pergi, hati ini rasanya pedih tapi toh Pakdeku bukan orang yang dekat dengan sedih. Maka, aku putuskan tersenyum seharian, pertanda penghormatanku kepada almarhum. Berbeda dengan mereka yang memilih menangis, pertanda kehilangan orang terkasih.
Kenangan terakhirku dengan almarhum, Desember 2009. Aku sadar hanya bertahan dua hari di kota itu dan hanya satu tempat yang ingin ku tuju Jl. Ciptowiloho, rumah pakdeku. Senyumnya membuat hati ini terkembang akan kebaikan dan kebesaran hati dia selama ini. Sembilan tahun berpisah, tawa dia masih renyah, senyumpun masih ramah, bahkan marah bisa aku rasa.
Kebesaran hati dia harus tidak pernah kalah sekalipun ajal menyapa dan merenggut dia dari hidupku. Terimakasih atas semua paksaan dan argumentasi yang pernah terjadi dan kebersediaan pakdeku selama 27 tahun terakhir ini menjadi ayah pengganti dan panutan yang luar biasa besar untukku.
Langganan:
Postingan (Atom)